Jumat, 13 Mei 2016

Sejarah Ekonomi masa Perang dan Revolusi


                                                                                                                        29 April 2016

Tiga hal yang mesti dikuasai oleh seorang ahli ekonomi dapat dikategorikan yaitu sejarah, statistik dan teori. Menurut Schummpeter sejarah merupakan bidang yang paling terpenting dalam memahami perekonomian. Alasannya:
1. kita tidak akan bisa memahami fenomena ekonomi tanpa menguasai fakta-fakta historis
2. agar bisa memperoleh pengertian yang tepat mengenai gejala ekonomi maka perlu sejarah
3. kesalahan fundamental dalam analisis ekonomi murni seringkali disebabkan oleh kurangnya penguasaan terhadap pengalaman sejarah (Rahardjo 1985:15)

EKONOMI PERANG DAN REVOLUSI (1942-1950)
1.      Ekonomi Zaman Jepang
a.      Gambaran umum kondisi Indonesia awal pendudukan Jepang
      Ekonomi perang merupakan penerapan pengaturan, pembatasan, dan penguasaan produksi dengan tujuan memenangkan perang. Gambaran umum saat Jepang tiba di Indonesia adalah Jepang menghadapi kenyataan banyak objek vital terutama instalasi minyak bumi sudah dibumihanguskan Belanda. Prasarana ekonomi seperti jembatan, alat-alat transportasi dan telekomunikasi dalam keadaan rusak.[1]     
            Penguasaan Jepang atas Indonesia dianggap penting dilihat dari dua tujuan:
1.    Untuk menguasai dan memperoleh sumber-sumber bahan mentah terutama minyak bumi yang sangat diperlukan untuk melanjutkan perang.
2.    Untuk memotong garis suplai musuh yang bersumber dari Indonesia
     Tujuan Jepang tersebut akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama merupakan tahap penguasaan untuk rencana jangka pendek dan tahap kedua merupakan rencana untuk jangka panjang, yaitu menyusun kembali struktur ekonomi wilayah tersebut. Didalam rangka untuk memenuhi kebutuhan bahan-bahan untuk perang.
     Pengaturan-pengaturan baru yang mengendalikan dan mengatur kembali hasil-hasil utama Indonesia serta putusnya hubungan dengan pasar-pasar ekspor tradisional, secara bersama-sama, menimbulkan kekacauan dan penderitaan yang menjadikan tahun-tahun terburuk dari depresi tampak ringan. Jepang tidak dapat menampung semua hasil ekspor Indonesia. Dan kapal-kapal selam sekutu segera menimbulkan begitu banyak kerugian terhadap pelayaran Jepang sehingga komoditas-komoditas yang diperlukan Jepang pun tidak memadai.[2]
b.      Kebijakan ekonomi perang masa pendudukan Jepang
      Kebijakan ekonomi yang akan diterapkan di Indonesia dirumuskan pada 12 Desember 1941, yaitu:[3]
1.      Indonesia harus berswasembada dalam memenuhi kebutuhan Jepang. Sebagaimana pemerintah Jepang di Tokyo membuat kebijakan ekonomi pada bulan November 1941 yang isinya:
“apabila pengurusan bantuan vital bagi pertahanan nasional dan swasembada militer dapat menimbulkan kerugian terhadap tingkat hidup penduduk pribumi, hal itu harus diterima saja”
2.      Prioritas produksi  adalah produksi minyak bumi sedangkan industry yang lebih diutamakan adalah industry yang menghasilkan bahan yang bermanfaat bagi Jepang.
3.      Semua milik musuh termasuk perkebunan harus diambil alih
4.      Barang-barang impor dari Jepang hanya boleh dimanfaatkan oleh mereka yang bekerja untuk kepentingan Jepang.
                  Maka langkah pertama yang diambil Jepang, yaitu :
1.      Mengawasi penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan berbagai jenis barang.
2.      Penyitaan milik musuh dan dijadikan milik pemerintah pendudukan yang dilaksanakan dengan ketat mulai Desember 1941. Seperti perkebunan, bank, pabrik, dan perusahaan vital seperti pertambangan, perusahaan listrik, telekomunikasi dan transportasi.
3.      Harga-harga dikendalikan untuk mencegah terjadinya manipulasi.
4.      Apabila ada yang melanggar peraturan diancam dengan hukuman berat.
c.       Prioritas ekonomi masa perang
      Adapun yang mendapat prioritas ekonomi pada masa perang ialah
·         Perkebunan karet, kina (obat yang sangat penting untuk perang), dan tanaman tebu yang diolah menjadi gula.. Sedangkan kopi, teh dan tembakau digolongkan sebagai komoditas kenikmatan dan kurang berguna bagi kepentingan perang. [4]
·         Sejak 1943 Jepang berusaha membuka ladang-ladang minyak baru. Seperti instalasi minyak bumi Plaju dekat Palembang, yang bisa menyumbang 9.000.000 barel minyak kepada pemerintah Jepang.
·         Batu bara. Tambang batu bara Bukit Asam di Sumatera Selatan yang rusak diperbaiki, kemudian tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto.
d.      Usaha Jepang meningkatkan bahan makanan
Usaha yang dilakukan Jepang dalam meningkatkan bahan makanan adalah:
1.      Pemerintah memperluas areal pertanian dengan cara membuka hutan dan memanfaatkan tanah yang belum ditanami serta mengganti tanaman kenikmatan di perkebunan dengan tanaman pangan. Seperti bekas perkebunan tembakau di Sumatera Timur seluas 10.000 hektar ditanami padi.[5] Hal ini juga berlaku di Kalimantan dan Sulawesi harus menanam padi dan menebang tanaman kopi serta di Jawa dilakukan penebangan hutan secara liar, tidak kurang dari 500.000 hektar hutan rusak akibat penebangan liar ini.
2.      Pemerintah menentukan kuota beras yang harus diserahkan sebagai setoran wajib. Di Jawa dituntut menghasilkan beras sebanyak 50.000 ton dan jagung 30.000 ton. Aceh diwajibkan menyetor 17.000 ton beras dan 3.000 ton bahan pangan lainnya namun kuota itu tidak terpenuhi.
3.      Menerapkan dasar-dasar politik beras yaitu padi berada dibawah pengawasan Negara.[6]
e.       Sumber utama keuangan masa perang
      Sumber utama bagi keuangan pemerintah Jepang selama perang adalah:[7]
1.      Penjualan hasil perkebunan.
2.      Pemungutan pajak. Orang-orang yang berpenghasilan 30.000 gulden setahun dikenakan pajak. Besar pajak yang dikenakan terhadap orang Eropa sebesar 70 kali dan orang Cina sebesar 35 kali dari jumlah yang dibayarkan pada masa Hindia Belanda.
3.      Mencetak uang baru. Selama tiga setengah tahun masa pendudukan Jepang ada tiga jenis mata uang yang beredar yaitu
·           mata uang Japanche Regeering yang dibawa sewaktu invasi,
·           kemudian berubah setelah masa pendudukan menjadi mata uang Nippon Teikoku Seihu
·           mata uang pemerintah Dai Nippon.[8]

f.       Masalah yang timbul dari kebijakan ekonomi masa perang
      Jepang menerapkan dasar-dasar politik beras yaitu padi berada dibawah pengawasan Negara dan harga gabah dan beras yang ditentukan pemerintah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan saat perang, para petani diperintahkan untuk menyerahkan kuota per hektar yang luar biasa tinggi. Contohnya kasus pemungutan padi yang ada di Indramayu. Hal ini diperparah lagi dengan adanya penyelewengan yang seharusnya pemungutan dari camat hanya ditugaskan 1.000 ton padi tetapi ketika dilapangan ia meminta 1.200 ton. Hal ini menimbulkan pemberontakan petani di Indramayu secara besar-besaran. Sehingga disekitar Jawa, masyarakat desa menyebut zaman pendudukan Jepang ini sebagai zaman kuintalan atau zaman penyetoran padi. [9]

2.      Ekonomi Zaman Revolusi
            Sejarah bangsa Indonesia pasca kemerdekaan sangat buruk,bahkan bisa dikatakan pemerintah belum bisa menyanggah perekonomian yang terpuruk,dan ironisnya malah menambah kegagalan perkembangan ekonomi pada saat masa-masa tersebut. Dengan lambannya pemulihan ekonomi dan meluasnya pengeluaran pemerintah, maka tidaklah mengherankan bahwa inflasi dari masa perang dan revolusi terus berlanjut. Semua sektor kemasyarakatan menderita sampai tingkat tertentu akibat kenaikan harga. Sehingga kemerdekaan tidak menghasilkan kemakmuran yang diharapkan oleh banyak orang.[10]

a.         Perencanaan ekonomi revolusi
                                    Arsitek utama perencanaan ekonomi Republik Indonesia pada masa revolusi berada di tangan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Ia adalah ahli ekonomi lulusan sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam, Belanda. Selama masa perjuangan kemerdekaan ada beberapa upaya untuk menyusun rencana perekonomian Republik Indonesia yang dapat dilihat dalam tiga tahap, yaitu:[11]
1.         Dari tahun 1945-1947, berlangsung sejak beberapa bulan sebelum proklamasi atau pada masa transisi pendudukan Jepang, ketika Indonesia belum lagi berhadapan langsung dengan kekuatan colonial Belanda.
2.         Dari tahun 1947-1948, berlangsung diantara dua agresi militer Belanda, ketika Indonesia terlibat perang mempertahankan kemerdekaan dan munculnya pemikiran-pemikiran alternative serta kebijaksanaan ekonomi dalam menghadapi kekuatan colonial khususnya yang dikenal dengan “blockade ekonomi” Belanda.
3.         Dari tahun 1948-1950, berlangsung ketika Indonesia memasuki tahap baru dalam perjuangannya yang berlangsung setelah meletusnya Agresi Militer Belanda II.
b.      Karakteristik permasalahan ekonomi
          Karakteristik umum mengenai masalah-masalah pokok perekonomian Indonesia tahap awal revolusi, yaitu:[12]
1.      Kesulitan dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi strategis selama beberapa bulan pertama setelah proklamasi.
2.      Terdapat suatu metode atau manajemen politik ekonomi gaya revolusi untuk membuat terobosan jalan pintas yang memenuhi kebutuhan mendesak khususnya dalam penguasaan sumber-sumber setempat.
3.      Adanya masalah moneter, khususnya nilai tukar uang kertas pada masa revolusi.
Pada masa awal kemerdekaan pemerintah Republik Indonesia menyadari bahwa uang yang dikeluarkan sendiri dari RI bisa menjadi alat pemersatu tetapi karena keadaan saat itu sedang terjadi krisis peperangan maka uang Jepang masih dijadikan alat tukar yang sah.
c.       Kebijakan dalam menghadapi blokade ekonomi : [13]
1.      Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946.
2.      Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India seberat 500000 ton, mengadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.
3.      Konferensi ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
4.      Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947. Badan perancang ini merupakan badan yang tetap yang tugasnya untuk membuat rencana pembangunan ekonomi untuk jangka waktu 2 sampai 3 tahun.
5.      Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948 yaitu mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
6.      Nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Negara Indonesia yang hingga sekarang menjadi Bank Indonesia.
7.      Pada tanggal 19 Januari 1947 dibentuk Planing Board (badan perancang ekonomi yang bertugas untuk membuat rencana pembangunan ekonomi jangka waktu 2 sampai tiga tahun). Kemudian IJ Kasimo sebagai menteri Persediaan Makanan Rakyat menghasilkan rencana produksi lima tahun yang dikenal dengan nama Plan Kasimo yang isinya antara lain :
a. Memperbanyak kebun bibit dan padi unggul
b. Pencegahan penyembelihan hewan pertanian
c. Penanaman kembali tanah kosong
d. Pemindahan penduduk (transmigrasi)
d.      Alat tukar masa revolusi
            Sejak 30 Oktober 1946 pemerintah RI mulai mencetak uang sendiri. Mata uang RI yang diterbitkan pertama kali di Jakarta yang disebut Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) dengan perbandingan Rp 10,- ORI sama dengan setengah gram emas. Setelah Agresi Militer Belanda I dan II hubungan antara daerah sangat sulit, maka masing-masing daerah menerbitkan sendiri Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA) berdasarkan izin pemerintah pusat. Seperti Oeang Kertas Darurat Banten yang berlaku mulai 12 Desember 1947, ada lagi Oeang Repoeblik Indonesia Propinsi Soematera.[14] Maka pada masa revolusi beredar empat mata uang sekaligus yaitu uang gulden Hindia Belanda, uang Jepang, uang NICA, dan uang ORI serta turunannya ORIDA.

Sumber :
Imran, Amrin [et.all]. 2012. Perang dan Revolusi, Jilid 6. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Ujoalwanto, Basuki. 2014. Perekonomian Indonesia: Tinjauan Historis,Teoritis dan Empiris. Yogyakarta:Graha Ilmu.
Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
Zed, Mestika dan Emizal Amri. Sejarah Sosial dan Ekonomi:Jilid 2. Padang : IKIP Padang Press.


[1] Amrin Imran, [et.all], Perang dan Revolusi, Jilid 6, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012), hlm. 47
[2] M. C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 424.
[3] Amrin Imran, [et.all], Perang dan Revolusi, Jilid 6, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012), hlm. 47
[4] Basuki Ujoalwanto, Perekonomian Indonesia Tinjauan Historis,Teoritis dan Empiris, (Yogyakarta:Graha Ilmu,2014).hlm 38
[5] M. C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 425
[6] Mestika Zed dan Emizal Amri, Sejarah Sosial dan Ekonomi:Jilid 2, (Padang : IKIP Padang Press), hlm 216
[7] Amrin Imran, [et.all], Perang dan Revolusi, Jilid 6, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012), hlm. 50
[8] Ibid, hlm. 323.
[9] Mestika Zed dan Emizal Amri, Sejarah Sosial dan Ekonomi:Jilid 2, (Padang : IKIP Padang Press), hlm 216.
[10] M. C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm.475.
[11] Amrin Imran, [et.all], Perang dan Revolusi, Jilid 6, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012), hlm. 319
[12]  Ibid, hlm 322
[13] Basuki Ujoalwanto, Perekonomian Indonesia Tinjauan Historis,Teoritis dan Empiris, (Yogyakarta:Graha Ilmu,2014).hlm 39
[14] Amrin Imran, [et.all], Perang dan Revolusi, Jilid 6, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012), hlm. 323

Tidak ada komentar:

Posting Komentar